RSS

Rudolf Bonnet dan Pita Maha

15 Agu

Rudolf Bonnet dan Pita Maha
“Kawinnya” Modernitas dan Tradisi di Bali

Oleh
Dwin Gideon

Jakarta – Seni rupa di Bali adalah gabungan dari dua kekayaan sejarah seni rupa, yaitu antara sejarah seni tradisi di Ubud yang dikembangkan lewat seniman rupa Bali turun-temurun, juga sejarah “seni rupa Eropa”.

Kedua latar inilah yang bergabung dalam perhimpunan seniman Pita Maha di Bali pada tahun 1936, menyatukan nama seniman Tjokorda Gede Agung Sukawati, Walter Spies dengan Rudolf Bonnet.
Seniman dengan latar belakang berbeda namun sejiwa ini lalu mempertahankan kualitas seni yang kemudian menjadi ciri khas seni rupa Bali, sekaligus mengembangkan teknik dan topik baru dalam dunia seni lukis. Ide dari Pita Maha kemudian ditawarkan kepada seniman generasi muda di Bali. Mereka juga membantu memperkenalkan karya para seniman muda Ubud-Bali kepada para pelancong dari mancanegara.
Karya koleksi seni Bali Bonnet yang berasal dari akhir tahun 1920-an hingga 1950-an dihibahkan kepada Museum Puri Lukisan. Seni rupa berbagai medium, bisa berupa lukisan, gambar dan patung kayu. Rudolf juga mengumpulkan sejumlah lukisan, yang dibawanya ketika dia kembali ke Belanda di tahun 1958. Di tahun 1961, Bonnet menjual koleksi lukisan kepada Universitas Leiden, yang kemudian menyerahkan lukisan-lukisan ini kepada Museum Etnologi di Leiden sebagai pinjaman tetap yang jumlahnya sampai 127 lukisan.
Pada pameran bertajuk “Pioneers of Balinese Paintings” yang digelar sejak 19 September hingga 23 Oktober di Erasmus Huis, Jl HR Rasuna Said Kav S-3 Kuningan Jakarta ini, Yayasan Rudolf Bonnet menggelar 60 lukisan koleksi Bonnet sejak tahun 1929-1958. Pameran sebelumnya sempat digelar juga di Museum Puri Lukisan di Ubud, Bali.
Ketua Yayasan Ratna Wartha, Tjokorda Putra Sukawati, yang memiliki Museum Puri Lukisan di Ubud hadir pada momen pembukaan pameran itu. “Rata-rata pelukis Bali ini berkumpul di Ubud. Para seniman dari Ubud inilah yang banyak mendominasi seni lukis dari Bali,” kata Tjokorda Gede Putra Sukawati, dalam dialog dengan SH, Kamis (18/9).
Menurut Tjokorda, tempat kumpul yang sama inilah yang banyak mempengaruhi kesamaan gaya dan tekstur dari lukisan-lukisan yang ditampilkan pada pameran kali ini. Dari sekian banyak pelukis yang ada di Ubud itu, I Gusti Nyoman Lempad adalah seorang yang paling menonjol. Selain sebagai pelukis Bali yang legendaris, Lempad juga dikenal sebagai undagi, perencana bangunan tradisional, dan sangging, pembuat perangkat untuk upacara Ngaben.
Lempad dilahirkan di Bedahulu tahun 1862, dan meninggal pada 9 Mei 2008. Pada tahun 1970, Lempad mendapat Anugerah Seni dalam bidang seni lukis dari Pemerintah Indonesia dan penghargaan Dharma Kusuma dari Pemda Bali tahun 1982. “Di Leiden sendiri, nama Lempad sudah cukup dikenal,” tambah Ketua Yayasan Rudolf Bonnet, Pienke Kal.
Masyarakat yang sudah pernah menyaksikan koleksi Bonnet, menurut Pienke, pasti akan menyatakan kekagumannya terhadap karya Lempad. Seperti halnya pelukis Bali yang lain, Lempad tidak banyak bermain warna di dalam karya-karyanya. Lukisan-lukisannya kebanyakan “hanya” menggunakan tinta hitam-putih. Untuk temanya sendiri, Lempad banyak melukiskan kegiatan masyarakat sehari-hari.
“Satu ciri yang menjadi kekhasan karya-karya Lempad adalah bahwa dari tema keseharian tersebut, Lempad selalu menampilkan suasana yang gembira dalam lukisan-lukisannya,” kata Pienke. Bahkan, senyum sebagai simbol kegembiraan tidak hanya ditampilkan pada gambar-gambar orang, tetapi juga pada gambar hewan yang ada di lukisannya. Seperti pada Two Farmers and Bullocks, Lempad melukiskan dua petani yang sedang mengendarai pedati yang ditarik kerbau. Baik petani maupun kerbaunya digambarkan dengan senyum yang riang.
Demikian juga pada The God Siwa and His Son Kala. Meskipun menampilkan tema religius dengan makna yang mendalam, Lempad tetap tidak lupa menampilkan senyum yang riang pada tokoh-tokoh yang ada di sana, Dewa Siwa dan Putranya, Kala. “Dengan tema kegiatan sehari-hari, Lempad ingin mengajak kita untuk tetap optimistis dan tetap gembira di dalam menjalani hidup,” kata Pienke.
Keseluruhannya, ada empat karya Lempad yang dipamerkan, yaitu The God and His Son Kala, Family Scene, Two Farmers and Bullocks, dan Malem-Servant of The Pandawas. Menurut Pienke, keempatnya mempunyai popularitas yang sama di Leiden. Semua karya disukai banyak penikmat lukisan.
Pameran para pelopor lukisan modern Bali yang diprakarsai oleh Yayasan Rudolf Bonnet di Belanda ini juga dilakukan dalam rangka memperingati 50 tahun berdirinya Museum Puri Lukisan di Ubud. Sebuah tarikan sejarah panjang yang mewarnai seni rupa Nusantara dan seni rupa di dunia, kembali digoreskan.
(sihar ramses simatupang)

Seni patung Bali-Ubud

Seni ukir Balise

Seni ukir di Bali memiliki kualitas seni motif yg khusus dan berbeda dengan daerah lainnya. Pengaruh seni yg berkualitas namun guratannya lebih didominasi tumbuhan, binatang, bunga melati dan teratai serta gambaran tentang manusia atau hewan.

Bahan yang dipergunakan umumnya kayu berkualitas tinggi, seperti jati dan kayu lainnya yang berkualitas

UKIRAN TOPENG

Ukiran Topeng BALI merupakan rupa khusus ukiran kayu.  Walaupun berada sepanjang gugusan pulau Ibu Pertiwi dan bisa ditemukan pada upacara-upacara pemakaman dan sebagainya, bentuk ukiran topeng yang paling gampang dikenal yakni ukiran topeng BALI yang dipergunakan pada tarian wayang topeng Bali.Seni ukiran topeng bali sangatlah menarik untuk di hayati,karena bentuknya yg indah dan juga memiliki seni ukir yg berbeda, Apabila anda berkunjung ke Bali jangan lupa mampir ke Ubut, di sana banyak sekali jenis-jenis topeng serta ukiran-ukiran Bali yg mungkin akan membuat anda berdetak kagum, Penari-penari menyelenggarakan ceritera wiracarita India seperti misalnya epos Mahabharata atau hikayat-hikayat khas setempat dan topeng dimanfaatkan guna mewakili para tokoh.  Topeng-topengnya berpusparagam dari ukiran topeng Jawa Barat dan Tengah yang formal tapi polos hingga topeng Jawa Timur yang ukirannya sangat berliku-liku.  Topeng Bali tidak sebegitu formal dan lebih alamiah – orang Bali menghemat rasa cintanya pada warna dan seluk beluk mendetail untuk ukiran topeng tari barong, yang jauh lebih memperlihatkan pengaruh pra-Hindu.

Sejarah, Seni Dan Budaya ukiran bali

Bali sudah didiami manusia sejak zaman purbakala. Bukti-bukti sejarah masa lampau itu antara lain berupa situs-situs megalit dalam berbagai bentuk dan ukuran yang dapat disaksikan baik di museum maupun di alam terbuka.

Peninggalan kebudayaan ukiran bali itu merupakan hasil kreasi seni pahat para nenek moyang, terdiri dari arca-arca batu berbentuk manusia, binatang, menhir, dolmen, punden berundak, kubur batu, lumpang batu dan sebagainya yang berukuran kecil sampai raksasa. Bukti-bukti peradapan pada masa 2500-1000 tahun sebelum Masehi itu tidak hanya mengesankan bagi wisatawan asing maupun domestic, tetapi juga bagi para ahli yang acapkali dating melakukan penelitian ilmiah.

Dalam terbuka, situs-situs megalit itu sebagian besar terdapat di Pulau Bali Keberadaan benda-benda megalit itu telah melahirkan berbagai legenda dan mitos di kalangan masyarakat Bali.

BONEKA HAS BALI

Boneka paling terkenal di Indonesia yaitu wayang kulit terutama dari bali, figur renda yang berliku-liku dipotong dari kulit kerbau dengan stilus tajam yang bagaikan pahat dan lantas dicat.  Dihasilkan di Bali dan di Jawa, terutama di Jateng.  Kayon berbentuk daun yang melambangkan ‘pohon’ atau ‘gunung kehidupan’ digunakan mengkahiri lakon wayang dan juga terbuat dari kulit.

Wayang Golek adalah boneka berdimensi tiga yang paling populer antara orang bali bentuknya sangat has dan penuh dengan nilai seni, perintis senirupa ini sahabat karib pembawa wayang topeng Sunan Kalijaga, yakni Sunan Giri yang memperkenalkannya ke bumi Priangan serentak penyebaran agama Islam.   Adapun wayang klitik, sejenis boneka kayu tipis lebih langka dari Jawa Timur.

BUDAYA

Budaya Bali sejak dahulu sangat banyak di minati banyak orang, dari seni rupanya yg indah dan juga terdapat banyak ukiran-ukiran indahnya…Anda pernah ke bali?? Selain alam yg indah terdapat hiburan-hiburan yg menarik untuk di lihat!!!Kalo ke bali jangan lupa jalan-jalan ke Ubut, Tanah Lot , Bedugul, Serta arena hiburan yg menyenangkan….terdapat juga ukiran bali yg rasanya ingin membuat ukiran tersebut.

Topeng Ukiran & Boneka Tradisional Indonesia

Topeng wayang Bali.  Beraut wajah
halus dan berwarna putih, topeng ini
menggambarkan tokoh kulasentana


TOPENG UKIRAN
Topeng merupakan rupa khusus ukiran kayu.  Walaupun berada sepanjang gugusan pulau Ibu Pertiwi dan bisa ditemukan pada upacara-upacara pemakaman dan sebagainya, bentuk topeng yang paling gampang dikenal yakni topeng yang dipergunakan pada tarian wayang topeng Jawa dan Bali.  Pengenalan wayang topeng itu disifatkan pada kedatangan Sunan Kalijaga, seorang walisongo abad XV seiringan delapan handai taulan lainnya memutus berdomisili di buana Nusantara (pulau Jawa) agar supaya memancarkan agama Islam, namun beberapa tarian adalah warisan tata adab Hindu-Buddha.   Penari-penari menyelenggarakan ceritera wiracarita India seperti misalnya epos Mahabharata atau hikayat-hikayat khas setempat dan topeng dimanfaatkan guna mewakili para tokoh.  Topeng-topengnya berpusparagam dari topeng Jawa Barat dan Tengah yang formal tapi polos hingga topeng Jawa Timur yang ukirannya sangat berliku-liku.  Topeng Bali tidak sebegitu formal dan lebih alamiah – orang Bali menghemat rasa cintanya pada warna dan seluk beluk mendetail untuk topeng tari barong, yang jauh lebih memperlihatkan pengaruh pra-Hindu.

Topeng Jawa lebih formal, sebagaimana
terlihat dalam topeng kartolo ini dari
Lumajang, Jatim, tata ukirannya ruwat
Topeng rangda Bali, perempuan sihir
tari Barong


BONEKA
Boneka paling terkenal di Indonesia yaitu wayang kulit, figur renda yang berliku-liku dipotong dari kulit kerbau dengan stilus tajam yang bagaikan pahat dan lantas dicat.  Dihasilkan di Bali dan di Jawa, terutama di Jateng.  Kayon berbentuk daun yang melambangkan ‘pohon’ atau ‘gunung kehidupan’ digunakan mengkahiri lakon wayang dan juga terbuat dari kulit.

Wayang Golek adalah boneka berdimensi tiga yang paling populer antara orang Sunda di Jawa Barat, perintis senirupa ini sahabat karib pembawa wayang topeng Sunan Kalijaga, yakni Sunan Giri yang memperkenalkannya ke bumi Priangan serentak penyebaran agama Islam.   Adapun wayang klitik, sejenis boneka kayu tipis lebih langka dari Jawa Timur.

Dari sekian banyak rupa wayang,
wayang golek trimatra paling
digemari masyarakat Jabar

Wayang klitik diukir dan dilukiskan
dengan sosok dwimatra,
paling tenar di Jatim

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 15, 2009 in pendidikan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
RK Studio

Abadikan momen berharga anda bersama orang terkasih

studio hijab

grosir-ecer busana muslim

studiorupa

Mari Berkarya Seni Rupa

Matgami Studio

seni adalah gambaran kemajuan peradaban

matgami

paper craft - origami, Indonesia

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

ICHWAN MAHFUZ

Melipat Kertas

haditahir

origami...! FSX...! Pepakura...!

Izzytheart's Blog

Just another WordPress.com site

Keretamerahpenuhwarna's Blog

Just another WordPress.com site

The Bandit's News

Slow To Be Update

Fadil Ibnu Ahmad

Goresan Pena Mujahid

Hamble's Blog

do the most

Fisika dan Ika

Fisika Tidak hanya Rumus Belaka

Talk About Life

let's talk about anything in this life

yelti septiria

all about life is the story of a struggle and it will be history

Bumsil

berdiri sedjak mahalnya biaya pendidikan

Auliyanti's Blog

Just another WordPress.com site

%d blogger menyukai ini: