RSS

PERIODISASI KEHIDUPAN PALING AWAL DI INDONESIA

15 Agu

PERIODISASI KEHIDUPAN PALING AWAL DI INDONESIA

Berdasarkan hasil-hasil kebudayaan yang ditinggalkan oleh masyarakat di kepulauan Nusantara sebelum mengenal tulisan, maka kehidupan masyarakat paling awal di Indonesia oleh para ahli di bagi menjadi dua zaman. Dua zaman tersebut yaitu:


A. Zaman Batu


• Zaman batu tua ( Paleolithikum)
• Zaman batu madya (Mesolithikum)
• Zaman batu muda ( Neolithikum)
• Zaman batu besar ( Megalithikum)


B. Zaman Logam


• Zaman tembaga
• Zaman perunggu
• Zaman besi
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia tidak mengenal zaman tembaga. Demikian juga peninggalan zaman besi jumlahnya juga sangat sedikit dan waktunya bersamaan dengan zaman perunggu sehingga di Indonesia hanya mengenal zaman perunggu saja.


A. ZAMAN BATU


Zaman Batu Tua ( Paleolithikum)
§
Zaman ini berlangsung kurang lebih 600.000 tahun. Perkembangan kebudayaan pada zaman ini sangat lambat akibatnya keadaan alam yang masih sangat labil dan liar. Alat-alat yang di gunakan pada zaman ini masih sangat kasar sebab teknik pembuatannya masih sangat sederhana.
Berdasarkan tempat penemuannya, hasi-hasil kebudayaan zaman batu tua di Indonesia dibagi menjadi dua, yaitu kebudayaan Ngandong dan kebudayaang Pacitan.
Tabel Kebudayaan Zaman Paleolithikum
Hasil kebudayaan Cara Hidup Pendukung
Kebudayaan Pacitan
§
– kapak genggam
– kapak perimbas
– alat serpih

Kebudayaan Ngandong§
– kapak genggam
– alat dari tulang dan
– tanduk rusa
– alat serpih(flake) berburu dan mengumpulkan makanan (food gathering)
§
berpindah-pindah(nomaden)
§
mengenal api
§
memelihara hewan
§
Phitecanthropus Erectus
§ hidup di padang rumput §

Homo Soloensis§
Homo Wajakensis
§

Zaman Batu Madya ( Mesolilthikum)§
Zaman batu madya ini berlangsung pada kala Holosen. Perkembangan kebudayaan pada zaman ini berlangsung lebih cepat daripada zaman batu tua. Hai ini disebabkan karena :
1. Keadaan alam sudah tidak liar dan selabil zaman batu tua sehingga dalam waktu kurang lebih 20.000 tahun hingga zaman sekarang.
2. Pendukung zaman ini adalah manusia cerdas ( Homo Sapiens)
Alat-alat yang digunakan dari zaman batu tua masih digunakan dan dikembangkan serta mendapat pengaruh dari Asia Daratan sehingga mempunyai corak tersendiri.

Tabel Kebudayaan Zaman Mesolithikum
Hasil kebudayaan Cara Hidup Pendukung
Kapak genggam Sumatra (pebble culture)§
Alat-alat dari tulang dan tanduk (bone culture)
§
Alat-alat serpih (flakes)
§
Kapak pendek (hache courte)
§
Gerabah
§
Berburu dan mengumpulkan makanan tingkat lanjut
§ Lukisan dinding gua §
Sebagian masih nomaden
§
Sebagian sudah mulai menetap bertempat tinggal di gua-gua (Abris Sous Roche)
§
Sebagian lagi hidup di pesisir menangkap ikan dan kerang (kyokkenmodinger)
§
Papua Melanesoid, nenek moyang dari suku Papua
§ Menetap sementara/ semi sedente §
Sakai (Siak)
§
Semang (Malaysia)
§
Atca (Filipina)
§
Aborigin (Australia)
§

Zaman Batu Muda ( Neolithikum)§

Perkembangan kebudayaan pada zaman batu muda ini sudah sangat maju daripada zaman-zaman sebelumnya.
Hal ini disebabkan adanya migrasi secara bergelombang penduduk proto melayu dari Yunnan, Cina Selatan ke Asia Tenggara, termasuk ke Indonesia. Adanya migrasi ini membawa kebudayaan kapak persegi. Menurut R. Soekmono, kebudayaan Neolithikum sebagai dasar kebudayaan Indonesia sekarang.
Alat-alat yang digunakan sudah sangat halus pembuatannya karena mereka sudah mengenal teknik mengasah dan mengupam.

Tabel Kebudayaan Zaman Neolithikum

Hasil Kebudayaan Cara Hidup Pendukung

§ Kapak persegi
Kapak lonjong
§
Kapak bahu
§
Gerabah
§
Perhiasan (gelang dan manik-manik)
§
Alat pemukul kayu
§

Revolusi Neolitik§
Hidup menetap bertempat tinggal di rumah-rumah sederhana
§
Membentuk perkampungan
§
Bercocok tanam dan beternak
§
Menggunakan bahasa Melayu Polinesia (Austronesia)
§
Indonesia Barat
§
Proto Melayu 2000 SM nenek moyang suku bangsa: Nias, Toraja, Sasak, Batak
Indonesia timur
§
Papua Melanesid

Zaman Batu Besar ( Megalithikum)§
Kebudayaan Megalithikum adalah kebudayaan yang utamanya menghasilkan bangunan-bangunan monumental yang terbuat dari batu-batu besar dan masif. Bangunan Megalithik ini digunakan sebagai sarana pemujaan dan penghormatan terhadap arwah nenek moyang. Kebudayaan ini muncul pada zaman Neolithikum dan berkembang luas pada zaman logam.
Hasil-hasil terpenting dari kebudayaan Megalithikum sebagai berikut:
s Menhir adalah tiang atau tugu batu yang terbuat dari batu tunggal dan ditempatkan pada suatu tempat. Menhir ini biasanya digunakan sebagai sarana pemujaan arwah nenek moyang, sebagai tempat memperingati seseorang (kepala suku) yang telah meninggal dan sebagai tempat menampung kedatangan roh. Banyak ditemukan di Pasemah, Sumatra Selatan.
s Kubur peti batu adalah peti jenazah yang terpendam di dalam tanah berbentuk persegi panjang dan sisi-sisinya terbuat dari lempengan-lempengan batu. Banyak ditemukan di Kuningan, Jogjakarta tepatnya di Wonosari, Sumatra Selatan.
Dolmen adalah meja batu
s tempat sesaji. Dolmen berupa meja batu berkaki menhir seperti yang ditemukan di Pasemah, Sumatra Selatan. Ada pula dolmen yang digunakan sebagai kubur batu seperti yang ditemukan di Bondowoso dan Merawan, Jawa Timur.
Punden berundak adalah bangunan pemujaan yang
s bertingkat-tingkat atau berundak-undak. Kelak akan menjai cikal bakal bentuk candi di Indonesia. Banyak ditemukan di daerah Cisolok, Sukabumi.
s Sarkofagus atau keranda adalah peti jenazah yang berbentuk seperti palung atau lesung tetapi mempunyai tutup. Sarkofagus banyak ditemukan di Bali dan di Sumbawa Barat.
Arca, arca ini banyak ditemukan di
s Sumatra Selatan, Lampung, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur. Arca tersebut menggambarkan manusia dan binatang seperti gajah, harimau, kera, babi rusa.
Waruga adalah peti jenazah kecil yang berbentuk
s kubus dan di tutup dengan batu lain yang berbentuk atap rumah. Ditemukan di Minahasa.
Von Heine Gelder membagi penyebaran kebudayaan Megalithik ke Indonesia menjadi 2 gelombang. Yakni :
s
s Megalithik Tua: menghasilkan menhir, punden berundak, dan arca statis. Menyebar ke Indonesia pada zaman Neolithikum (2500-1500 SM). Pendukungnya adalah Proto Melayu.
Megalithik Muda: menghasilkan
s dolmen, kubur peti batu, sarkofagus, waruga, arca. Menyebar pada zaman perunggu (1000-100SM). Pendukungnya adalah Deutro Melayu.

B. ZAMAN LOGAM
Pada zaman ini penduduk di Nusantara telah mampu mengolah dan melebur logam. Kepandaian ini diperoleh setelah menerima pengaruh dari kebudayaan Dongson (Vietnam).

a. Hasil-hasil kebudayaan
Hasil-hasil kebudayaan dari zaman logam berupa nekara, kapak corong, candrasa,bejana perunggu, arca-arca, gerabah dan benda-benda dari besi.
1) Nekara
Nekara adalah gendering besar yang terbuat dari perunggu, berpinggang di bagian tengahnya dan tertutp di bagian atasnya. Nekara dengan berhiaskan patung katak berfungsi untuk upacara meminta hujan. Sedangkan nekara yang terdapt lukisan perahu digunakan untuk menghantarkan jenazah. Banyak ditemukan di Sumatra, Jawa, Bali, Selayar, Roti, dan Kepulauan Kei.
2) Kapak corong
Kapak corong adalah kapak yang bagian atasnya berbentuk corong yang berguna untuk memasukkan tangkai kayu. Banyak ditemukan di Sumatra Selatan, Jawa, Bali, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Selayar dan dekat danau Sentani, Papua.
3) Candrasa
Candrasa adalah kapak corong yang satu sisinya memanjang. Candrasa ini biasanya digunakan sebagai tanda kebesaran dan alat upacara saja. Banyak ditemukan di Yogyakarta dan Roti.
4) Bejana Perunggu
Bejana perunggu berbentuk bulat panjang, ditemukan di Sumatra dan Madura.
5) Arca-arca perunggu
Arca-arca dari zaman perunggu ini berupa arca manusia dan binatang. Arca-arca tersebut ditemukan di Bangkinang (Riau) dan di Limbangan (Bogor)
6) Gerabah
Pada zaman logam telah mencapai tingkat yang lebih maju dengan macam-macam hiasan. Gerabah sering digunakan untuk menyimpan hasil panen dan keperluan rumah tangga. Gerabah di temukan di Gilimanuk (Bali), Leuwiliang (Bogor), Anyer (Jawa Barat), dan Kalumpang (Sulawesi Selatan
7) Benda-benda besi
Penemuan benda-benda besi berbeda dengan benda perunggu lainnya. Jumlah benda ini sangat terbatas. Seringkali benda-benda besi di temukan sebagai bekal kubur. Benda-benda besi yang ditemukan tersebut berupa: mata kapak, pisau, sabit, pedang, gelang-gelang besi, mata tombak, dan sebagainya. Ditemukan di Besuki (Jawa Timur)
b. Teknologi
Benda-benda perunggu yang ditemukan dari zaman logam dibuat dengan menggunakan 2 teknik, yaitu:
Teknik Bivalve (Setangkap)§
Teknik ini menggunakan 2 cetakkan yang dirapatkan. Cetakan terbuat dari tanah liat yang dikeringkan,dibakar, dan diberi lubang yang berfungsi untuk memasukkan cairan logam. Setelah cairan logam dingin, cetakkan dibuka. Cetakan ini dapat dipergunakan berkali-kali.
Teknik A cire Perdue (Cetakan lilin)
§
Teknik ini diawali dengan membuat bentuk benda logam dari lilin yang berisi tahah liat sebagai intinya. Setelah itu diberi lubang dan dijemur agar mengeras kemudian dibakar. Masukkan cairan logam tunggu hingga dingin. Cara mengeluarkannya dipecah. Sehingga cetakan tadi hanya bisa dipakai satu kali saja.
TABEL KEBUDAYAAN ZAMAN LOGAM
Hasil kebudayaan Cara hidup Pendukung
Kapak corong
§
Candrasa
§
Nekara
§
Bejana perunggu
§
Arca-arca perunggu
§
Gerabah
§
Hidup menetap diperkampungan
§ Benda-benda besi §
Berladang
§
Ada pembagian kerja
§
Menguasai ilmu perbintangan
§
– Pelayaran
– Perdagangan
– Pertanian
Deutro Melayu 500 SM. Keturunannya: Suku Jawa, Suku Bali, Suku Bugis, Suku Madura
§ Menguasai pelayaran dengan perahu bercadik §

Pura adalah istilah untuk tempat ibadah agama Hindu di Indonesia. Pura di Indonesia terutama terkonsentrasi di Bali sebagai pulau yang mempunyai mayoritas penduduk penganut agama Hindu.

Etimologi

Kata “Pura” sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur, -puri, -pura, -puram, -pore), yang artinya adalah kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangan pemakaiannya di Pulau Bali, istilah “Pura” menjadi khusus untuk tempat ibadah; sedangkan istilah “Puri” menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan.

Sad Kahyangan

Sad Kahyangan atau Sad Kahyangan Jagad, adalah enam pura utama yang menurut kepercayaan masyarakat Bali merupakan sendi-sendi pulau Bali. Masyarakat Bali pada umumnya menganggap pura-pura berikut sebagai Sad Kahyangan:

  1. Pura Besakih di Kabupaten Karangasem.
  2. Pura Lempuyang Luhur di Kabupaten Karangasem.
  3. Pura Goa Lawah di Kabupaten Klungkung.
  4. Pura Uluwatu di Kabupaten Badung.
  5. Pura Batukaru di Kabupaten Tabanan.
  6. Pura Pusering Jagat (Pura Puser Tasik) di Kabupaten Gianyar.

Selain pura-pura Sad Kahyangan tersebut di atas, masih banyak pura-pura di lainnya di berbagai tempat di pulau Bali, sesuai salah satu julukannya Pulau Seribu Pura.

Pura Besakih adalah komplek pura utama di Pulau Bali, dan merupakan pusat kegiatan dari seluruh pura yang ada di Bali. Pura Besakih terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia.

Salah-satu pura terkenal lainnya adalah Pura Tanah Lot di Desa Beraban, Kecamatan Kediri, Kabupaten Tabanan. Di Tanah Lot terdapat dua buah pura yang terletak di atas tebing batu besar, yang merupakan tempat pemujaan dewa-dewa penjaga laut.

Pura Besakih

Pura Besakih adalah sebuah komplek pura yang terletak di Desa Besakih, Kecamatan Rendang Kabupaten Karangasem, Bali, Indonesia. Komplek Pura Besakih terdiri dari 18 Pura dan 1 Pura Utama. Pura Besakih merupakan pusat kegiatan dari seluruh Pura yang ada di Bali. Di antara semua pura-pura yang termasuk dalam kompleks Pura Besakih, Pura Penataran Agung adalah pura yang terbesar, terbanyak bangunan-bangunan pelinggihnya, terbanyak jenis upakaranya dan merupakan pusat dan semua pura yang ada di Besakih. Di Pura Penataran Agung terdapat 3 arca utama Tri Murti Brahma, Wisnu dan Siwa yang merupakan perlambang Dewa Pencipta, Dewa Pemelihara dan Dewa Pelebur.

Filosofi

Keberadaan fisik bangunan Pura Besakih, tidak sekedar menjadi tempat ibadah terbesar di pulau Bali, namun di dalamnya memiliki keterkaitan latar belakang dengan makna Gunung Agung. Sebuah gunung tertinggi di pulau Bali yang dipercaya sebagai arwah serta alam para Dewata. Sehingga tepatlah kalau di lereng Barat Daya Gunung Agung dibuat bangunan suci Pura Besakih yang bermakna filosofis.

Makna filosofis yang terkadung di Pura Besakih dalam perkembangannya mengandung unsur-unsur kebudayaan yang meliputi:

  1. Sistem pengetahuan,
  2. Peralatan hidup dan teknologi,
  3. Organisasi sosial kemasyarakatan,
  4. Mata pencaharian hidup,
  5. Sistem bahasa,
  6. Religi dan upacara, dan
  7. Kesenian.

Ketujuh unsur kebudayaan itu diwujudkan dalam wujud budaya ide, wujud budaya aktivitas, dan wujud budaya material. Hal ini sudah muncul baik pada masa pra-Hindu maupun masa Hindu yang sudah mengalami perkembangan melalui tahap mitis, tahap ontologi dan tahap fungsional.

PURA LUHUR LEMPUYANG

Pura ini terletak di puncak bukit Bisbis, termasuk wilayah kecamatan Abang, Kabupaten Daerah Tingkat II Karangasem, sebagai tempat suci untuk memuliakan dan memuja Ida Sanghyang Widhi Wasa dalam perwujudannya sebagai Icwara. Pura ini berstatus sebagai salah satu “Sad Khayangan Jagad” sehingga dengan demikian jelas bahwa pura ini merupakan penyungsungan jagat yg terletak pada arah timur pulau Bali. Dengan demikian dilihat dari segi letak, dapat dijelaskan bahwa fungsi dari pura ini sebagai perlambang untuk menjaga keseimbangan alam semesta.
Berdirinya Pura Lempuyang Luhur ini tidak dapat dipisahkan dengan peristiwa turunnya “Bhatara Tiga” pada zaman dahulu dari gunung Semeru di Bali dan kejadian-kejadian sesudah peristiwa tersebut. Dari sekian banyak sumber , ada baiknya dikutip tiga buah diantaranya, yaitu

1. Babad Pasek
Di Dalam Babad Pasek ini antara lain diuraikan demikian: Malawas lawas ayusa ikang rat 70 tahun, dina, Ka, Su, Tolu, sasih Kalima, tang ping 5, rah panenggek 1, tandwa hana riris deres, ketug dahat banter, lindu 2 sasih tahun icaka 113, malih makepelug hyanghing tolankir, mijil Bhatara Putrajaya tumut arin Ida Bhatari Dewi Danuh, tumurun maring Besakih, abhiseka Bhatara Mahadewa, arine Bhatari Dewi Danuh, aparhyangan maring hulun danu, mwah Bhatara Gnijaya aparhyangan maring giri Lempuyang duking lumampah Bhatara Tiga tinuduh de Bhatara Pacupati: “Kita Mahadewa mwang Danuh, Gnijaya, agelah ta kita ku kinon samangke, tumedun wontening Balirajya, didine tistis kang Balipulina, kita maka panghuluning Bali”, mangkana andika Bhatara Pacupati, neher matilar Bhatara Tiga, anging hana atur ira :”Singgih Hyang Bhatara dening nanak Rahadyan Bhatara kari rare, durung weruh maring wratmika”, mangkana atur Bhatara Tiga. Sumahar Bhatara Pacupati, ling ira: ”Aja walat hati hulun lugraha maka awantha, apan kita anang manira, puja den ira agya siniwi maring Bali”, ri wus samangkana, raris sinaput bhatara tiga, olih toktoking nyuh gading de Bhatara Pacupati, wus sinaputan, winasta olih Bhatara, awtning takya ajnanan, wus mangkana lumaku Bhatara Tiga, raris dteng arnawan awan ira, mangkana pawijilan bhatara nguni…..dan seterusnya

Artinya kurang lebih seperti berikut: Lama kelamaan berumur dunia ini 70 tahun, pada hari Sukra Keliwon, wara Tolu, sasih Kalima (sekitar bulan November) tanggal ping 5, rah panenggek 1, lalu turun hujan lebat, halilintar sambung menyambung, gempa bumi, selama 2 bulan, tahun icaka 113 (tahun 191 M), lagi meletus gunung Agung tersebut. Keluar Bhatara Putrajaya, ikut adik beliau Bhatari Dewi Danuh, tiba di Besakih, dengan bergelar Bhatara Mahadewa, adiknya Bhatari Dewi Danuh, berparhyangan di Hulun Danu sedang Bhatara Gnijaya berparhyangan d gunung Lempuyang. Tatkala berangkat Bhatara Tiga di perintahkan oleh Bhatara Pacupati: “Kamu Mahadewa dan Danuh, Gnijaya segera kamu kuperintahkan sekarang juga, datang di pulau Bali, supaya menjadi stabil pulau Bali, kamu sebagai pimpinan bali:, demikian bersabda Bhatara Pacupati, lalu berangkat Bhatara Tiga, akan tetapi ada atur beliau : “Ya Hyang Bhatara oleh karena putera Rahadyan Bhatara masih anak-anak, belum mengetahui pada jalan”, demikian atur Bhatara Tiga. Dijawab oleh Bhatara Pacupati, sabda beliau: ”Jangan susah hati akan kuberikan petunjuk jalan, sebab kamu anakku, junjunglah (terimalah) olehmu untuk dimuliakan di Bali:, sesudah demikian lalu dibungkus Bhatara Tiga, dengan kepala gading oleh Bhatara Pacupati, setelah dibungkus, digaibkan oleh Bhatara, dengan kekuatan bathin, dan sesudah apa berangkat Bhatara Tiga, lalu sampai perjalanan beliau, dengan demikian tibanya Bhatara dahulu……dan seterusnya. 2. Lontar Kutarakanda Dewapurana Bangsul
Didalam lontar Kutarakanda Dewapurana Bangsulada disinggung mengenai Lempuyang, yang antara lain disebutkan sebagai berikut : Na wuwus Sanghyang Paramecwara ri tanayan ira para watek Dewata samudaya, muka mukya sira Sanghyang Gnijayacakti, ling ira :”Aum ranak mami ri kita makabehan, adon sira turuna mareng banwa ing Bangsul, kumemit kang Bangsuri, maneher kita Dewata luminggeng haan rumaksa kang rat, wenang pinilih ikang gunung maka stanata sowing-sowang, ginawe Kahyangan, wuwus hana gunung-gunung saider ing banwa Bangsul, piniyoghaken mami ing dangu, mwang ginawan mami sangke Jambhudwipa nguni, mami nenah aken maring Bangsul, Sanghyang Mahameru pangaranya dak mami pukah madyanya atut pucaknya, dak sun waweng Bangsul, sapraptan irang Bangsul maha kweh pukahnya, arimbag abungkul agung alit manuli tiba ring bhumi, saha ungguhanya matemahan geger-geger, mwang pagunungan, werdhi maring Bangsul, an mangkana anakku Dewata kita kabeh, hana katemu denta gunung Agung, tinengeran giri raja, maring Airsanya, ya ta gunung mas mapucak manik, adasar ratna kopala winten, akrikilmirah, apasir podhi, ya tika agran ira Hyang Mahameru gnuni, ingsun, ingsun, ginawa mareng bangsul, sun parah tiganen, kang sabagi dadi gunung Batur, maka dadi daour candi Hyang Agni siring pratiwi tala, ikang sabagi isornya, sundadya akna gunung Rinjani, ikang pucuk dadi ira dadi Hyang Tolangkir, ngaran gunung sasor nikang gunung Agung ika lwirnya, saka purwa amilangi, kawruh akna pangaranya, gunung Tasahi, kulonya gunung Pangelengan, kulonya gunung Mangu, kulonya gunung Cilanjana, kulonya gunung Beratan, kulonya gunung Watukaru, kulonya mwah pagunungan Nagaloka, kulonya mwah, nga, gunung Pulaki, mangidul Wetan sakeng rika hana gunung Pucaksangkur, Bukit Rangda, tratebang, Mangetanya mwah hana Padangdawa, mwah ikang pasisi Kidul, hana gunung Andakasa mwang Huluwatu, terus mangetana maring ghneya desan ira hana gunung Byaha, mwang Byasmuntig, ikang maring Purwa hana gunung Lempuyang, mangalora saka rika hana gunung Sraya, samangkana pasama dayaning acala sumimpa maring bangsul, ndan makweh kari geger kang maring madya, tan ucapa akna. Ika ta kabeh wenang maka ungguhaning dharma kahyangan para Dewata kita makabehan.
Artinya kurang lebih demikian: Demikian sabda Sanghyang Paramecwara kepada puteranya para dewata sekalian, terutama sekali Sanghyang Gnijaya cakti, sabda beliau “Wahai anakku kamu sekalian, kamu kusuruh dating di daerah Bali, menjaga pulau bali, lalu kamu menjadi Dewata selaku penguasa di sana, boleh memilih gunung sebagai tempat tinggalmu masing-masing, membuat kahyangan, sudah ada gunung-gunung diseluruh daerah Bali, yang adanya itu berkat yoghaku dahulu, dan aku bawa dari India dahulu, aku tempatkan di daerah Bali, Sanghyang Mahameru namanya yang aku potong pertengahan termasuk opuncaknya, dan aku bawa ke Bali, setibanya di Bali banyak bagian-bagiannya, menjadi pecahan besar kecil kemudian ditempatkan di daratan, serta letaknya menjadi gundukan, dan pegunungan, selamat di Bali, demikianlah anakku engkau dewata sekalian, kamu akan jumpai gunung Agung, sebagai tanda gunung besar, di sebelah timur laut, itu lah gunung mas yang berpuncak manik, berdasar ratna winten, berbatu mirah,berpasir padi, itulah puncaknya gunung Hyang Mahameru dahulu, aku, aku bawa gunung Batur, sebagai dapur candi Hyang Agni yang ada di bawahnya, yang sebagian di bawahnya, aku jadikan gunung Rinjani, sedang pundaknya menjadi Hyang Tolangkir, bernama gunung Agung, puncaknya menjadi pegunungan dan gundukan, dibawah gunung Agung itu seperti, dari Timur menghitunganya, akan diketahui namanya, yaitu gunung Tasahi, di baratnya gunung Pangelengan, dibaratnya gunung Mangu, di baratnya gunung Cilanjana, di baratnya gunung Beratan, di baratnya gunung Batukaru, di baratnya lagi gunung Pulaki, ke tenggara dari sana terdapat gunung Puncaksungkur, bukit Rangda, Trate bang, kesebelah timur lagi ada Padangdawa, sedang di pantai selatan, ada gunung Andakasa dan Huluwatu, terus ke timur di sebelah tenggara tempatnya ada gunung Byaha dan Byasmunting, yang di sebelah timur ada gunung Lempuyang, ke sebelah utara dari sana ada gunung Sraya, demikianlah semuanya yang mengelilingi pulau Bali, dan masih banyak gundukan yang di tengah, yang tidak disebutkan. Itu semua boleh sebagai tempat tinggal membuat Kahyangan para dewata kamu kalian.

3. Prasasti Desa Sading
Di dalam prasasti desa Sading antara lain disebutkan bahwa gunung Lempuyang juga disebut “Andri Karang” yang bermakna gunung Karang, dan disana Raja Jayacakti melakukan Samadhi yang akhirnya dalam sejarah perjalannya lebih dikenal dengan sebutan “Karangasem”. Mengenai gunung Lempuyang ini juga erat kaitannya dengan datangnya Raja Jayacakti di Bali, yang dikisahkan sebagai berikut: Pada sekitar tahun icaka 1072 (tahun 1150 M) pada sasih Kasanga, tanggal ping 12, bertepatan dengan bulan separoh terang, wara Julungpujut, Cri Maharaja Jayacakti menyelenggarakan rapat dengan para pimpinan perang utama Rakryan Apatih dan dibawah Rakryan, pada suatu rapat besar, raja berkehendak pergi ke pulau Bali bersama degnan permaisurinya, dan beliau berkeinginan beristana di “Ardri Karang”. Beliau dating ke bali ikut karena ada perintah dari ayah beliau yaitu Sanghyang Guru, dengan tujuan untuk membuat dharma disana di gunung Lempuyang sebagai penyelamat pulau bali, disertai oleh segenap Pandita Ciwa dan Budha, dan Uga Mantri Agung ikut. Disanalah Raja Cri Jayacakti dijadikan raja oleh masyarakat. Tidak senanglah beliau dijadikan raja, oleh karena beliau bertingkah laku baik dan tidak digoyahkan oleh pikiran tamak, loba, ataupun pikiran pamerih didalam masyarakat, segenap abdinya sangant menghormati, sebab beliau raja yg berhasil dan sempurna dalam disiplin bathinnya. Adapun selaku abdinya jumlahnya tidak terhitung banyaknya, dan mantrinya saja yang menghitung, mengatur yaitu berjumlah 400 orang termasuk pasukan dari Jawa. Beliau juga disebut Maharaja Bima ialah Cri Bayu atau Cri Jaya atau Cri Gnijayacakti. Selanjutnya disebutkan sebagai berikut.

Dari ketiga buah sumber tersebut dapat diketahui, bahwa sebagai awal berdirinya Pura Lempuyang Luhur ini erat kaitannya dengan tibanya Bhatara Tiga di bali, dimana antara lain disebutkan bahwa Bhatara Tiga tiba di di Bali pada hari Jumat Kliwon, wara Tolu, bertepatan dengan sasih (bulan) Kalima pada tahun icaka 113 (sekitar November 191). Sebagaimana sudah disebutkan terdahulu bahwa diantara Bhatara Tiga itu Bhatara Gnijaya berparhyangan di gunung Lempuyang (bukit bisbis). Bhatara Tiga tiba di Bali dari gunung Semeru (Jawa Timur) atas perintah Bhatara Pacupati, untuk dijadikan junjungan pulau Bali. Sedang peristiwa-peristiwa yang terjadi kemudian seperti tibanya Raja Cri Jayacakti yang kemudian bersemedhi disana adalah merupakan kelanjutan dan kelengkapan semata-mata. Di Pura Lempuyang Luhur ini terdapat suatu yang menarik dan merupakan keistimewaan dan bersifat khusus ialah dengan terdapatnya serumpun bambu “Buluh Gading”. Di dalam ruas-ruas bambu ini akan didapat “tirta” (air suci) yang lazim disebut “Tirta Pingit”, karena tidak setiap orang yang dating sembahyang kesana akan memperolehnya, melainjkan hanya suatu kelompok keturunan saja yang mendapatkan tirta tersebut, sedang dari warga lainnya tidak mungkin.
Pangempon Pura Lempuyang Luhur ialah seluruh kerama desa Puraayu, adapun susunan, jumlah dan nama palinggih (bangunan suci) yang terdapat di Pura Lempuyang Luhur adalah sebagai berikut:
• Sebuah Padmasana yang terletak pada bagian Utara menghadap ke Selatan sebagai parhyangan Bhatara Luhuring Akasa
• Dua buah palinggih berbentuk seperti padmasana yang pondasinya menjadi satu terletak pada bagian Timur menghadap ke Barat. Yang sebelah utara sebagai Parhyangan Hyang Gnijaya dan yang di sebelah Selatan sebagai Parhyangan para putera beliau.
• Sebuah Bale Pawedhan atau Phyasan sebagai tempat meletakkan sajen dan sekaligus sebagai Bale Pawedhan (tempat memuja).
• Sebuah bangunan Gedong Pasimpenan, sebagai tempat menyimpan alat-alat upacara.

Palinggih yang terdapat di Pura Lempuyang Luhur, lazim juga disebut Kahyangan “Tri Purusa” yaitu Ciwa, Sadha Ciwa, dan Parama Ciwa sebagai perwujudan Ida Sanghyang Widhi Wasa.
Upacara aci atau pujawali di Pura Lempuyang Luhur ada dua jenis yaitu setiap enam bulan Bali (210 hari) bertepatan dengan hari Kamis Umanis, wara Dungulan (Umanis Galungan) dan pada setiap Purnamaning Wesaka (Purnama sasih kadasa).
Pemangku dari Pura Lempuyng Luhur ini selalu dijabat oleh satu keturunan secara tradisional menurut garis purusa (patrilinuial), sedang mengenai “pengangge” yang dipergunakan di Pura Lempuyang Luhur ini selalu berwarna putih dan kuning. Bilamana aka diselenggarakan upacara aci atau piodalan seluruh bahan-bahan ramuan disediakan oleh para “Truna”(pemuda), sedangkan yang mengerjakannya adalah para “ “Daha”(krandan) ialah para wanita remaja. Ini dimaksudkan agar, semuannya bersifat suci, karena rohaniah, walaupun kadang-kadang hal ini belum dapat sebagai jaminan mengenai kesucian tersebut.

PURI

Puri di pulau Bali adalah nama sebutan untuk tempat tinggal bangsawan Bali, khususnya mereka yang masih merupakan keluarga dekat dari raja-raja Bali. Berdasarkan sistem pembagian triwangsa atau kasta, maka puri ditempati oleh bangsawan berwangsa ksatria.

Puri-puri di Bali dipimpin oleh seorang keturunan raja, yang umumnya dipilih oleh lembaga kekerabatan puri. Pemimpin puri yang umumnya sekaligus pemimpin lembaga kekerabatan puri, biasanya disebut sebagai Penglingsir atau Pemucuk. Para keturunan raja tersebut dapat dikenali melalui gelar yang ada pada nama mereka, misalnya Ida I Gusti, Cokorda, Anak Agung Ngurah, Dewa Agung, Ratu Agung, Ratu Bagus dan lain-lain untuk pria; serta Cokorda Istri, Anak Agung Istri, Dewa Ayu, dan lain-lain untuk wanita.

Etimologi

Secara etimologis, kata puri sesungguhnya berasal dari akhiran bahasa Sansekerta (-pur, –puri, –pura, –puram, –pore), yang artinya adalah kota, kota berbenteng, atau kota dengan menara atau istana. Dalam perkembangan pemakaiannya di Bali, istilah “Pura” menjadi khusus untuk tempat ibadah; sedangkan istilah “Puri” menjadi khusus untuk tempat tinggal para raja dan bangsawan. Saat ini kata puri dapat dipadankan dengan kata keraton atau kata pura dalam Bahasa Jawa, misalkan Pura Mangkunagaran. Beberapa puri dahulunya juga berperan sebagai benteng strategis untuk pertahanan kerajaan.

Daerah dan kekuasaan

Daerah atau wilayah kekuasaan puri-puri di Bali zaman dahulu, tidak berbeda jauh dengan wilayah administratif pemerintahan kabupaten dan kota di Provinsi Bali. Setelah Kerajaan Gelgel mulai terpecah pada pertengahan abad ke-18, terdapat beberapa kerajaan, yaitu Badung (termasuk Denpasar), Mengwi, Tabanan, Gianyar, Karangasem, Klungkung, Buleleng, Bangli dan Jembrana.[1][2] Persaingan antar dinasti dan antar anggota dinasti pada akhirnya menyebabkan Belanda dapat menguasai Bali dengan tuntas pada awal abad ke-20.[3]

Setelah masa kolonial Belanda, Jepang dan masa kemerdekaan Indonesia, kekuasaan puri berubah menjadi lebih bersifat simbolis. Peranan berbagai puri di Bali umumnya masih tinggi sebagai panutan terhadap berbagai pelaksanaan aktifitas adat dan ritual Agama Hindu Dharma oleh masyarakat banyak.

Daftar puri dan penglingsirnya

Denpasar & Badung

  • Puri Agung Denpasar (Puri Satria) : Ida Cokorda Ngurah Mayun Samirana (Ida Cokorda Denpasar IX)
  • Puri Agung Pemecutan : AA Ngr Manik Parasara (Ida Cokorda Pemecutan XI)
  • Puri Agung Kesiman : AA Ngr Gede Kusuma Wardhana (Cokorda Kesiman)
  • Puri Jero Kuta : AA Ngr Djaka Pratiknya
  • Puri Peguyangan : AA Ngr Gede Widiada
  • Puri Sibang (Abiansemal) : AA Ngr Oka Suralaga
  • Jero Tingas (Mambal) : Anak Agung Ngurah Bagus Suyasa

Mengwi

  • Puri Agung Mengwi : Anak Agung Gede Agung (putra mahkota)
  • Puri Kapal Muncan : Anak Agung Gde Muncana
  • Puri Kapal Kaleran : Anak Agung Ngurah Agung
  • Puri Mayun
  • Puri Anyar
  • Puri Kamasan (Sibang),(Sempidi)
  • Puri Banyuning (Bongkasa)
  • Jero Tangeb  : IG Ngurah Bgs Sandjaya
  • Jero Selat (Jero Nyelati) : I Gusti Gede Raka
  • Jero Gelgel : I Gusti Ngurah Made Suardita (Agung Leo)

Tabanan

  • Puri Agung Tabanan (Setelah ada raja menjadi Puri Agung): Ida Cokorde Anglurah Tabanan
  • Puri Kaleran Tabanan : I Gusti Ngurah Gede Agung
  • Puri Anom Tabanan : I Gusti Ngurah Alit Sanjaya
  • Puri Pemecutan Tabanan : I Gusti Ngurah Rupawan (Mabhiseka Ratu)
  • Puri Dangin Tabanan : I Gusti Ngurah Gede
  • Puri Anyar Tabanan : I Gusti Ngurah Bagus
  • Puri Denpasar Tabanan : I Gusti Ngurah Raka
  • Puri Agung Marga : I Gusti Ngurah
  • Puri Taman Marga : I Gusti Ngurah
  • Puri Agung Perean : I Gusti Ngurah
  • Puri Blayu Marga : I Gusti Ngurah
  • Puri Agung Kerambitan : AA Ngr Anom Mayun
  • Puri Anyar Kerambitan : AA Ngr Rai Giri Gunadi
  • Puri Kediri : I Gusti Ngurah Oka
  • Jero Aseman Kerambitan: Anak Agung Ngurah Mahendra
  • Jero Penida Penyalin

Gianyar

  • Puri Gianyar : AA Gede Agung II
  • Puri Agung Ubud (Puri Saren) : Cokorda Gde Agung Suyasa
  • Puri Peliatan : Cokorda Gde Putra Nindia
  • Puri Keramas
  • Puri Medahan
  • Puri Agung Sukawati : AA Gede Oka
  • Puri Agung Singapadu : Cokorda Gde Putra Kaya Trisna
  • Puri Agung Blahbatuh : I Gusti Ngurah Djelantik
  • Puri Agung TegalTamu : I Gusti Ngurah Agung Nara Kusuma
  • Puri Agung Negara : Tjokorda Gde Atmaja
  • Puri Kaleran Negara : AA Gede Putra Negara
  • Puri Agung Lebih
  • Puri Kedisan Tegallalang : I Gusti Ngurah Pulaki

Karangasem

  • Puri Agung Karangasem : AA Gde Putra Agung
  • Puri Kelodan : I Gusti Agung Putu Agung
  • Puri Kaleran : AA Arya Mataram
  • Puri Kanginan
  • Puri Kauhan : Ratu Agung Krishna Bagoes Oka
  • Puri Batu Aya : Ida I Dewa Gede Batuaya
  • Puri Celuk Negara
  • Puri Kaler Kauh : I Gusti Made Oka

Klungkung

  • Puri Agung Klungkung : Cokorda Rai
  • Puri Anyar Klungkung : Anak Agung Gde Indra Putra Dalem

Buleleng

  • Puri Agung Buleleng : AA Bagus Sujatra
  • Puri Anyar Sukasada : I Gusti Ngurah Gorda
  • Puri Kanginan Singaraja : AA Ngr Parwatha Pandji
  • Puri Bangkang : AA Sugandi
  • Puri Tukad Mungga : AA Ngr Mudipta
  • Puri Ayodya (Kalibukbuk) : AA Ngr Sentanu
  • Puri Blahbatuh : AA Ngr Jlantik
  • Puri Agung Padangbulia : I gusti Agung Ngr Made Santosa (????????)

Bangli

  • Puri Bangli : AA Ngurah Agung

Jembrana

  • Puri Agung Negara : Anak Agung Gde Agung Sutedja
  • Puri Jero Pasekan :
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Agustus 15, 2009 in pendidikan

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
RK Studio

Abadikan momen berharga anda bersama orang terkasih

studio hijab

grosir-ecer busana muslim

studiorupa

Mari Berkarya Seni Rupa

Matgami Studio

seni adalah gambaran kemajuan peradaban

matgami

paper craft - origami, Indonesia

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

ICHWAN MAHFUZ

Melipat Kertas

haditahir

origami...! FSX...! Pepakura...!

Izzytheart's Blog

Just another WordPress.com site

Keretamerahpenuhwarna's Blog

Just another WordPress.com site

The Bandit's News

Slow To Be Update

Fadil Ibnu Ahmad

Goresan Pena Mujahid

Hamble's Blog

do the most

Fisika dan Ika

Fisika Tidak hanya Rumus Belaka

Talk About Life

let's talk about anything in this life

yelti septiria

all about life is the story of a struggle and it will be history

Bumsil

berdiri sedjak mahalnya biaya pendidikan

Auliyanti's Blog

Just another WordPress.com site

%d blogger menyukai ini: