RSS

Cara/Tips Membuat Tulang menjadi Kuat

banyak banyak minum susu

Iklan
 
1 Komentar

Ditulis oleh pada Agustus 22, 2018 in Tak Berkategori

 

Brosur Kursus EDUStudio Terbaru 2017

Dapatkan Info Terkini mengenai EDUStudio dengan mengikuti Instagram kami di @edu.studio
Atau bisa bertanya lansung ke no kontak 083820837300 [whatsApp only]
081223900360 [Tlp, sms]
-,,Semua Orang Bisa Jadi Seniman..-
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Mei 14, 2017 in Tak Berkategori

 

Workshop Melukis Bersama Kak Rahmat_koto

poster-workshop

Ayo daftarkan segera dirimu, terbatas hanya untuk 15 orang

 

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Oktober 10, 2016 in Tak Berkategori

 

Contoh Sistematika penulisan karya ilmiah

 

Sistematika Penelitian

Adapun cara penyusunan penulis yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dijelaskan Latar belakang masalah, rumusan masalah dan pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penjelasan istilah, metode penelitian dan sistematika penulisan yang peneliti lakukan dalam mengurai permasalahan yang diangkat pada penelitian ini.

 

BAB II : LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan menjelaskan landasan teori yang digunakan dan menjadi acuan bagi penulis menganalisis data. Diuraikan pula kutipan dari buku-buku yang relevan berhubungan kursus origami di Sanggar Origami Maya Hirai.

 

BAB III : METODE PENELITIAN

Pada bab ini menjelaskan kegiatan serta cara-cara yang penulis tempuh dalam melaksanakan penelitian guna mendapatkan sumber-sumber dan data yang berhubungan dengan kursus origami di Sanggar Origami Maya Hirai.

 

BAB IV : PEMBAHASAN

Bab ini memaparkan hasil penelitian beserta pembahasannya, mengenai kegiatan pembelajaran, merancang proses pembelajaran dan manfaat dari kegiatan kursus bagi perkembangan kreatifitas peserta di Sanggar Origami Maya Hirai.

 

BAB V : SIMPULAN DAN SARAN

Dalam Bab ini diperoleh simpulan dan rekomendasi dari hasil bahasan beserta kajian berdasarkan data yang diperoleh penulis mengenai kursus origami di Sanggar Origami Maya Hirai. Beberapa rekomendasi diajukan kepada pengajar/ instruktur, instansi terait dan khalayak umum.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 23, 2015 in Tak Berkategori

 

Contoh latar belakang Skripsi

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah

Seni pada dasarnya adalah suatu bahasa komunikasi yang disampaikan melalui suatu media. Seniman sebagai sumber komunikasi, sedangkan karya seni sebagai media komunikasi dan pengamat atau masyarakat sebagai penerima. Oleh karena itu, suatu karya seni memiliki beberapa fungsi, bukan saja bersifat pribadi tetapi juga bersifat sosial. Herbert Read dalam bukunya yang berjudul The Meaning of Art, menyebutkan bahwa

seni merupakan usaha manusia untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan. Bentuk yang menyenangkan dalam arti bentuk yang dapat membingkai perasaan keindahan dan perasaan keindahan itu dapat terpuaskan apabila dapat menangkap harmoni atau satu kesatuan dari bentuk yang disajikan (Darsono, 2004,: 2).

 

Seni rupa berdasarkan fungsinya dibedakan menjadi dua cabang, yaitu seni rupa murni dan seni rupa terapan. Seni rupa murni adalah seni yang lebih mengutamakan kepuasan ekspresi pribadi seniman, karya seni rupa yang dibuat sebagai hasil ekspresi untuk dinikmati keindahannya. Seni rupa terapan atau disebut juga kriya adalah seni yang lebih menitik beratkan pada nilai guna atau fungsi agar bermanfaat bagi kebutuhan manusia namun tetap memiliki nilai estetik.

Seni rupa murni adalah seni yang hanya dapat dinikmati keindahannya tanpa melihat fungsi, contoh dari seni murni diantaranya seni lukis, seni patung, grafis, fotografi. Sedangkan seni rupa terapan atau kriya adalah seni yang lebih mengutamakan fungsi namun tetap memperhatikan keindahan benda tersebut, contohnya anyam, keramik, batik, tekstil, reklame, ukir kayu dan seni melipat kertas (origami).

Seni murni adalah seni yang dikembangkan untuk dinikmati keindahannya. Estetika bentuk merupakan faktor utama dibandingkan fungsi dari benda itu sendiri, karya seni murni lebih banyak dimanfaatkan sebagai barang pajangan atau koleksi. Proses pembuatannya yang dikerjakan secara satuan menjadi nilai jual untuk karya seni murni. Karya seni murni biasanya dibuat dalam jumlah satuan, sehingga menjadi gengsi tersendiri bagi para kolektor untuk memilikinya. Sebagai contoh karya seni murni diantaranya Lukisan, Kaligrafi, dan Patung.

Seni rupa terapan (kriya) diciptakan untuk mendukung kehidupan manusia, dalam mempermudah kehidupan manusia, senirupa terapan dibuatl dengan mengutamakan fungsi dibanding faktor estetika. Beragam benda kriya dibuat untuk membantu mempermudah pekerjaan manusia, mulai dari kendi, cangkir, teko, gelas, baju, sepatu, dan barang lainnya. keindahan bukanlah faktor penting dalam pembuatannya, meskipun sekarang ini sudah banyak hasil seni terapan yang juga selain mengutamakan fungsi juga memperhatikan faktor estetika. Seiring perkembangan jaman, benda kriya mulai banyak dijadikan sebagai benda pajangan atau hiasan. Jenis ini lebih menonjolkan aspek keindahan daripada aspek kegunaan atau segi fungsinya, namun tetap tergolong sebagai benda kriya dilihat dari segi proses pembuatan contohnya origami.

Origami adalah seni melipat kertas dari Jepang, Yang berasal dari kata Ori (melipat) dan Kami (Kertas), Sebetulnya Origami sudah dikenal di Cina sejak 100 tahun sebelum masehi, namun sejak tahun 600M berkembang pesat di Jepang (Megawangi, Ratna, dkk, 2011:1)

 

Sejak tahun 1950-an origami sudah menyebar luas keseluruh dunia termasuk Indonesia, perkembangan teknologi informasi yang semakin maju, mempermudah pertukaran ilmu antar setiap individu di berbagai belahan dunia. Dampak positif dari kemajuan teknologi itu adalah mudahnya bertukar informasi, sosial media menjadi wadah bertukar informasi antar individu. Kemudahan berkomunikasi itu menjadi wadah bagi individu-individu kreatif untuk membentuk suatu komunitas sesama penggiat. Origami menjadi salah satu hobi yang diminati oleh banyak orang tidak terlepas dari para pengguna internet. Pertukaran informasi terjadi antar penggiat origami diberbagai belahan dunia. Akibat dari terkumpulnya para penggiat origami itu banyak didirikan origanisasi penggiat origami dan terus berkembang sampai sekarang.

Indonesia dengan segala keragaman dan masyarakatnya yang kreatif ikut terdorong dengan kemajuan teknologi yang semakin mudah, berkumpulnya masyarakat Indonesia yang meminati origami diseluruh dunia menjadi pintu gerbang kemajuan seni melipat kertas asal negeri Jepang ini di Indonesia. Keudahan dan manfaat yang bisa didapat dari Seni melipat kertas ini menjadi salah satu pendorong mudah diterimanya origami dikalangan masyarakat Indonesia.

Dari selembar kertas kita dapat membuat berbagai macam bentuk tiruan benda yang ada dialam maupun tumbuhan dan binatang. Bentuk-bentuk itu mulai dari bunga sampai hewan yang dibuat dengan menggunakan media selembar kertas saja, adapun bentuk-bentuk lainnya seperti robot atau bentuk karakter animasi lain juga dapat dibentuk dengan origami.

Origami selain sebagai seni melipat yang biasa diajarkan di Taman Kanak-kanak (TK), ternyata memiliki berbagai fungsi dan keunikan sehingga membentuk karakter masyarakat Jepang seperti sekarang. Diantaranya dengan media origami kita dapat melatih kerapihan, keterampilan, motorik halus, kedisiplinan, daya ingat, daya imajinasi, dan kesabaran terutama pada anak-anak yang memasuki masa keemasan perkembangan otak.

Origami terbagi dalam dua jenis, origami tradisional dan origami kontemporer (modern). Origami tradisional adalah origami yang sudah ada sejak jaman dulu dan sudah banyak dikenal masyarakat luas dan tidak diketahui lagi siapa pembuatnya, selain itu memiliki ciri jenis lipatan yang cenderung lebih sederhana. Origami kontemporer atau biasa disebut origami modern merupakan perkembangan dari bentuk-bentuk dan lipatan origami tradisional namun memiliki lebih banyak lipatan dan biasanya memiliki bentuk mendekati objek aslinya, namun ada juga origami modern yang memiliki lipatan yang simple. Origami kontemporer biasanya dapat diketahui siapa pembuatnya. Contoh karya origami tradisional yang biasa dibuat dalam bentuk benda adalah origami Bangau (Crane), Pesawat, Camera, Kodok, Gelas dll. Sedangkan contoh karya origami kontemporer diantaranya origami Naga Terbang 3 dimensi, Ikan 3 dimensi, Dinosaurus, Bunga Mawar dan masih banyak bentuk lainnya dengan detail yang menyerupai bentuk aslinya.

Bandung yang terkenal sebagai kota kreatif akan hasil karya kriyanya memiliki banyak industri kreatif yang sudah tersentralisasi seperti pusat industri sepatu cibaduyut  dan pusat industri kaos oblong surapati. Selain itu ada salah satu sanggar di Bandung yang anggotanya merupakan para penggiat origami yang tergabung dalam Sanggar Origami Maya Hirai yang berada dibawah naungan Yayasan Origami Indonesia.

Maya Hirai School of Origami (MHSO) merupakan sanggar origami pertama di Indonesia yang fokus pada pembelajaran dan pengembangan origami. Berdiri sejak tahun 2009, beralamat di komplek Pusat Dakwah Islam (PUSDAI) Jawa Barat jalan Diponogoro kota Bandung. Kegiatan yang dilakukan oleh Sanggar Origami Maya Hirai diantaranya mengadakan pameran, workshop, pembelajaran kelas, maupun privat. Selain itu Sanggar Origami Maya Hirai juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial maupun pemecahan rekor Museum Rekor Indonesia (MURI) bersama-sama dengan Komunitas Origami Indonesia (KOI) diantaranya Rangkaian Origami Bangau (Crane) Terbayak (110.311 buah), Workshop origami Shinkansen dengan peserta terbanyak (5000 peserta), juga sering mendapat pesanan pembuatan origami untuk dekorasi ataupun souvenir acara.

Berdasarkan pemaparan di atas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian lebih lanjut untuk karya tulis skripsi dengan judul penelitian: ORIGAMI MAYA HIRAI (Kajian Proses Pembelajaran dan Kreativitas Origami di Sanggar Origami Maya Hirai Bandung).

  1. Perumusan dan Pembatasan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka penulis membuat perumusan masalah dan beberapa pertanyaan untuk memudahkan penelitian yang akan dilakukan, yaitu:

  1. Bagaimana perencanaan pembelajaran Origami di Maya Hirai School of Origami?
  2. Bagaimana metode pembelajaran Origami di Maya Hirai School of Origami?
  3. Apa saja kreativitas bentuk yang dikembangkan Maya Hirai School of Origami?

 

  1. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

  1. Diperoleh rancangan rencana pembelajaran origami di Maya Hirai School of Origami.
  2. Untuk mengetahui lebih dalam proses pembelajaran origami di Maya Hirai School of Origami.
  3. Untuk mengetahui kreatifitas bentuk apa saja yang dikembangkan di Maya Hirai School of Origami.

 

  1. Manfaat Penelitian

Penelitian mengenai Maya Hirai School of Origami ini diharapkan membawa manfaat besar terhadap penulis, masyarakat, lembaga pendidikan, dan juga dunia pendidikan seni rupa.

  1. Bagi penulis

Melalui penelitian ini diharapkan penulis dapat menambah wawasan, pengalaman, serta sumbangan informasi mengenai pembelajaran origami, sebagai kegiaan yang dapat mengasah kreatifitas. Khususnya di kota Bandung.

  1. Manfaat bagi Masyarakat

Kegiatan pembelajaran origami di MHSO dapat diketahui oleh generasi muda dan para penikmat seni khususnya dibidang origami. Masyarakat memiliki gambaran secara umum mengenai origami sebagai sebuah kegiatan kreatif di kota Bandung.

 

  1. Manfaat bagi lembaga pendidikan
  2. Formal

Dari hasil penelitian ini dapat dijadikan pembelajaran pada mata pelajaran seni di sekolah maupun diperkuliahan yang terakait dengan origami

  1. Nonformal

Melalui penelitian ini diharapkan memiliki gambaran umum mengenai kegiatan pembelajaran kesenirupaan yang menitik beratkan pada pengembangan kreatifitas.

  1. Manfaat bagi dunia pendidikan seni rupa

Sebagai bahan tambahan referensi dan dapat diuji cobakan  untuk perkembangan ilmu pngetahuan di Jurusan Pendidikan Seni Rupa UPI, khususnya pada bidang kriya dan desain. Serta dapat dijadikan bahan referensi untuk penelitian selanjutnya.

 

  1. Metode Penelitian

Pendekatan metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dan observasi lansung dilapangan. Karena objek yang akan diteliti adalah sebuah lembaga pendidikan nonformal berbasis sanggar. Penelitian yang akan dilakukan meliputi studi literasi dan studi lapangan dengan metode observasi lapangan. Seperti yang diungkapkan Burhan (Destinia, A.P. 2011:9)

‘Untuk memudahkan dalam memecahkan masalah berdasarkan jenis data yang diinginkan, maka peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif. Data diperoleh melalui studi literasi, observasi, dan mengutamakan data lansung berupa hasil wawancara, survey lapangan, dokumentasi tertulis dan data visual’.

 

Metode kualitatif dipilih peneliti karena penelitian ingin memperoleh gambaran menyeluruh mengenai aspek historis, kurikulum pengajaran, metode pengajaran, hasil pengajaran, peranan dan berbagai kegiatan yang telah dilakukan oleh sanggar Origami Maya Hirai dalam memasyarakatkan origami di Indonesia.

  1. Pengumpulan Data
  2. Teknik Pengumpulan Data

Model analisis yang dipakai adalah teknik analisis deskriptif. Karena sasaran fenomena penelitian yang terus berlansung. Kegiatan menganalisis data dilakukan sejak awal sampai akhir pelaksanaan penelitian. Teknik ini digunakan untuk mengurai unsur-unsur yang terdapat dalam penyelenggaraan kursus origami di Sanggar Origami Maya Hirai. Melihat pentingnya dari teknik  pengumpulan data, teknik yang digunakan dalam penelitian ini meliputi:

  1. Observasi

Teknik observasi merupakan pengamatan langsung ke lapangan untuk mendapatkan data-data yang diperlukan secara utuh dan (valid). Pengamatan langsung ke lokasi penelitian menjadi bagian terpenting untuk mengetahui lebih jauh tentang proses kreativitas seni origami di sanggar Origami Maya Hirai kota Bandung, penulis melakukan observasi terhadap semua aspek yang terdapat di sanggar tersebut.

  1. Wawancara

Teknik wawancara dengan sejumlah pihak yang dianggap sebagai nara sumber dari materi-materi yang dibutuhkan dalam penelitian. Nara sumber tersebut di antaranya para penggiat origami di kota Bandung yang memiliki kontribusi besar bagi perkembangan kreatifitas origami di Indonesia, khususnya Kota Bandung.

  1. Studi Pustaka dan Studi Dokumentasi

Untuk memperkuat wawasan keilmuan secara teoritis, penulis melakukan studi pustaka dengan membaca buku-buku yang relevan dengan aspek yang akan diteliti. Studi dokumentasi menunjang pemahaman peneliti terhadap kajian materi penelitian supaya lebih baik. Data dokumentasi tersebut meliputi sejumlah referensi buku, dan dokumentasi foto dan video yang terkait dengan aspek yang diteliti.

 

  1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian dilakukan di Sanggar Origami Maya Hirai Jl. Diponogoro 63, Gedung kaca selatan PUSDAI Jawa Barat. Bandung. Tlp.(022)70840375. Lokasi ini merupakan lokasi pindahan dari lokasi sebelumnya yang berada di Jl.Raya Cigadung.

 

  1. Sistematika Penelitian

Adapun cara penyusunan penulis yang akan dilaksanakan adalah sebagai berikut:

BAB I : PENDAHULUAN

Pada bab ini akan dijelaskan Latar belakang masalah, rumusan masalah dan pembatasan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, penjelasan istilah, metode penelitian dan sistematika penulisan yang peneliti lakukan dalam mengurai permasalahan yang diangkat pada penelitian ini.

 

BAB II : LANDASAN TEORI

Pada bab ini akan menjelaskan landasan teori yang digunakan dan menjadi acuan bagi penulis menganalisis data. Diuraikan pula kutipan dari buku-buku yang relevan berhubungan kursus origami di Sanggar Origami Maya Hirai.

 

BAB III : METODE PENELITIAN

Pada bab ini menjelaskan kegiatan serta cara-cara yang penulis tempuh dalam melaksanakan penelitian guna mendapatkan sumber-sumber dan data yang berhubungan dengan kursus origami di Sanggar Origami Maya Hirai.

 

BAB IV : PEMBAHASAN

Bab ini memaparkan hasil penelitian beserta pembahasannya, mengenai kegiatan pembelajaran, merancang proses pembelajaran dan manfaat dari kegiatan kursus bagi perkembangan kreatifitas peserta di Sanggar Origami Maya Hirai.

 

BAB V : SIMPULAN DAN SARAN

Dalam Bab ini diperoleh simpulan dan rekomendasi dari hasil bahasan beserta kajian berdasarkan data yang diperoleh penulis mengenai kursus origami di Sanggar Origami Maya Hirai. Beberapa rekomendasi diajukan kepada pengajar/ instruktur, instansi terait dan khalayak umum.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Desember 23, 2015 in Tak Berkategori

 

Arti dan Istilah Penamaan Lensa DSLR Nikon

Arti dan Istilah Penamaan Lensa DSLR Nikon

DSC_4444

Aturan penamaan lensa Nikon kadang cukup membingungkan, karena nikon menggunakan simbol huruf dan singkatan untuk mengenali komponen-komponen lensa. Dalam artikel kali ini saya akan menjelasakan singkatan-singkatan yang dipakai dalam lensa Nikon, untuk memudahkan kamu memahami spesifikasi lensa hanya dengan melihat namanya. ini cukup berguna terutama saat kamu akan membeli sebuah lensa.

AF

Singkatan dari Auto Focus, artinya lensa bisa fokus secara otomatis melalui kamera.

AF-D – Auto Focus with Distance Information

Artinya same seperti AF dengan tambahan bahwa lensa mampu mengirim informasi jarak antara obyek foto dan lensa ke kamera yang oleh kamera akan dipakai untuk menentukan metering

SWM – Silent Wave Motor

Lensa dengan nama ini memiliki kemampuan mengganti fokus dari auto focus ke manual focus secara cepat hanya dengan memutar focusing ring, tanpa harus mengganti mode focusing seperti halnya di lensa AF-D

AF-S – Auto Focus Dengan Silent Wave Motor

Lensa AF-S memiliki motor didalamnya sehingga bisa bekerja dengan semua jenis kamera DSLR Nikon yang tidak memiliki motor sendiri; kamera ini antara lain: D40/D40X, D60, D5000.

IF – Internal Focusing

Lensa mampu mencari fokus secara cepat hanya dengan menggerakkan elemen-elemen internal tanpa harus menggerakkan barel lensa (tanpa harus menggerakkan dan atau memanjangkan bagian depan lensa). Lensa dengan fitur IF mampu mencari fokus lebih cepat dibandingkan lensa non IF, lensa ini antara lain: Nikon 18-200mm f/3.5-5.6 VR II dan Nikon 70-200mm f/2.8 VR II.

RF – Rear Focusing

Cara lensa mencari fokus adalah dengan menggerakkan elemen internal di bagian belakang lensa.

G

Jika anda melihat huruf G dibelakang aperture lensa, misalnya: Nikon 50mm AF-S f/1.8G, artinya bahwa lensa tersebut tidak memiliki ring untuk mengatur aperture. Hampir semua lensa modern Nikon bertipe G.

Micro

Artinya sama dengan Macro, artinya lensa dengan spesialisasi untuk fotografi makro (jarak dekat).

PC-E – Perspective Control with Electronic Diapragm

Memungkinkan teknik tilt-shift, alias lensa bisa digeser dan dibengkokkan.

ED – Extra Low Dispersion

Adalah lensa dengan chromatic aberration minimal, lensa ini tidak menyebarkan cahaya yang membuat munculnya chromatic aberration di foto.

DC – Defocus Control

Lensa dengan fitur ini memungkinkan kita mengontrol bokeh , yang biasanya bagus untuk foto potret.

VR – Vibration Reduction

Memungkinkan kita menggunakan lensa dalam shutter speed yang rendah hanya dengan memeganngya tanpa harus membutuhkan tripod. Lensa dengan VR dilengkapi dengan sensor gerakan yang mendeteksi pergerakan tangan dan kemudian mengkompensasinya sehingga bisa meminimalisir blur.

SIC – Super Integrated Coating

Lensa dengan fitur ini mampu menghasilkan warna yang lebih bagus dan biasanya mampu mengeliminir ghosting dan flare.

N – Nano Crystal Coat

Huruf N biasanya ditampilkan dengan stiker emas dibagian atas. Lensa dengan nano crystal coat mampu meminimalkan ghosting dan internal flare sehingga foto yang dihasilkan bisa lebih jernih (clarity).

Dx

Lensa dengan huruf DX berarti lensa tersebut khusus didesain untuk digunakan dengan kamera DX milik Nikon seperti D3000/D5000/D90/D300s. Lensa DX juga bisa dipakai dikamera full frame Nikon (FX), hanya resolusi foto yang dihasilkan hanya separuhnya.

Contoh:

DSC_4433a

Jika anda amati lensa pada foto diatas, nama resminya adalah “AF-S Nikkor 50mm 1:1,8 G ”, bisa kita baca bahwa ini adalah lensa Nikon (Nikkor = Nikon) dengan panjang focal 50mm dengan aperture minimum f/1.8, memiliki auto-focus didalamnya yang dilengkapi dengan Silent-wave motor (AF-S), tanpa ring aperture (G).

 
1 Komentar

Ditulis oleh pada November 18, 2015 in Tak Berkategori

 

Edustudio rupa sebuah lembaga kursus gambar di kota Bandung

DSC_0788 copy mrs, Cindy wida rahmah 65961_355303511283904_4654919127404527247_n DSC_9519 copy

Edustudio merupakan sebuah lembaga kursus senirupa di kota Bandung yang menyelenggarakan kursus Gambar-Lukis-Origami-Fotografi- Craft, pengajar -pengajar Edustudio merupakan Mahasiswa dan Lulusan Kampus Seni Terkemuka di Bandung seperti ITB dan UPI. Edustudio berdiri sejak tahun 2013 dan merupakan lembaga Kursus Senirupa pertama di Kota Bandung yang menyelenggarakan Kursus Khusus Seni Rupa. Edustudio menerapkan konsep pembelajaran Ramah Siswa, dengan mempelajari seni siswa dapat menyalurkan hobinya dan mengembangkan bakat yang dimilikinya, melatih kemampuan seni anak sejak dini merupakan salah satu cara untuk menjamin kestabilan emosi anak. dengan mengenal seni anak memiliki cara penyaluran energi yang berlebih dengan cara yang positif.

Bagi yang berminat bergabung dikelas Gambar edustudio dapat mengikuti kelas anak di hari rabu dan Sabtu setiap jam 14,00-17.00

bagi kelas dewasa setiap Hari Kamis jam 14,00-17.00 atau bisa menghubungi 083820837300/ 081223900360 PIN bbm 7CAA17A6

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 18, 2015 in Tak Berkategori

 
 
kursus gambar online

kursus jadi lebih mudah

edumedia

produsen dan suplyer peralatan senirupa

RK Studio

Abadikan momen berharga anda bersama orang terkasih

studio hijab

grosir-ecer busana muslim

studiorupa

Mari Berkarya Seni Rupa

Matgami Studio

seni adalah gambaran kemajuan peradaban

matgami

paper craft - origami, Indonesia

Catatan Dahlan Iskan

dahlaniskan.wordpress.com

ICHWAN MAHFUZ

Melipat Kertas

haditahir

Origami Indonesia...! FSX...! Pepakura...!

Izzytheart's Blog

Just another WordPress.com site

Fadil Ibnu Ahmad

Goresan Pena Mujahid

Fisika dan Ika

Fisika Tidak hanya Rumus Belaka